People Innovation Excellence

Dampak peningkatan jumlah lansia terhadap munculnya fenomena sosial Kodokushi孤独死(dying alone) (studi kasus pada gempa bumi Kobe 1995)

Makalah ini telah dipresentasikan pada Seminar Asosiasi Studi Jepang Indonesia, UDINUS Semarang, November 2013

 

Sri Dewi Adriani

Japanese Departement, Faculty of Humanity, Bina Nusantara University

Jl. Kemanggisan Ilir III No 45, Kemanggisan/ Palmerah, Jakarta Barat 11480,

dewiadriani@yahoo.com

 

Abstraksi

Japan as one developed countries in the world is currently facing a severe problem in its demography. It relates to the diminishing of young population while aged people escalate. One of the problems is that the value of caring about old people is getting lessen because the number of youthful people is very low and due to the condition of modern family. This condition affects old people to live alone with no relatives and social surroundings. Many aged people are dying without being known by his relatives. Such phenomenonis so called as kodokushi (dying alone). The objective of this writing is to recognize the impact of increasing number of aged people against the kodokushi’s phenomenon. Research methodology has applying descriptive, analytical and qualitative approaches.

Key words: aged/old people, population, demography, Kodokushi, Japan

1.      Pendahuluan

Pada era 1980 sampai awal 1990-an, permasalahan mengenai koreika shakai(高齢化社会)atau masyarakat yang mulai beranjak tua, banyak menghiasi halaman media utama di Jepang. Terminologi ini kemudian dilanjutkan dengan korei shakai (高齢社会)atau masyarakat lanjut usia. Pada akhir 1990-an, istilah ini berubah menjadi chokoreika shakai (超高齢化社会)atau masyarakat yang mulai beranjak sangat tua dan chokorei shakai (超高齢社会) atau masyarakat sangat tua. Peningkatan usia hidup di Jepang (laki laki 78.8 tahun dan perempuan 85,6 tahun) di satu sisi membutuhkan ekstra perawatan dari berbagai penyakit yaitu penyakit tulang, paru-paru atau stroke. Saat ini Jepang berada pada pintu menuju masyarakat dengan jumlah lansia yang besar (Super Aged Society).  Data terbaru pemerintah Jepang mengumumkan jumlah penduduk lanjut usia di Jepang. Jumlah penduduk lansia wanita sebanyak 16.590.000 jiwa atau 25,4 % dari jumlah seluruh penduduk. Sedangkan untuk lansia pria sebanyak 12.390.000 atau 19,9% dari seluruh jumlah penduduk. Fenomena peningkatan jumlah lansia di Jepang diantaranya disebabkan oleh kualitas hidup yang baik, kemajuan teknologi kedokteran serta pelayanan kesehatan yang modern.

Peningkatan usia hidup disatu sisi menunjukan hal yang sangat positif, akan tetapi hal ini ternyata menimbulkan problem sosial baru yaitu masalah perawatan lansia. Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Jepang mulai beralih dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Hal ini berdampak pada pola keluarga di Jepang yang semula menganut sistem keluarga luas (dozoku) menjadi keluarga ini (kaku kazoku).  Saat ini mayoritas keluarga di Jepang hanya memiliki rata-rata satu sampai dua orang anak. Bahkan muncul kecenderungan para wanita Jepang saat ini untuk tidak menikah demi karier atau menikah namun tidak mau memiliki anak. Kondisi ini memicu masalah baru berkaitan dengan perawatan lansia. Banyak lansia yang akhirnya terpaksa ditempatkan di rumah jompo akibat tidak adanya sanak keluarga yang bisa merawat mereka. Pada beberapa kasus bencana alam, banyak ditemui lansia yang hidup sebatangkara karena ditinggal meninggal sanak keluarganya. Mereka kemudian banyak yang mengalami depresi karena kesepian dan akhirnya meninggal dunia.

Pada makalah ini, saya akan membahas mengenai munculnya fenomena sosial kodokushi (dying alone atau isolated death) yang terjadi pada lansia di Jepang khusunya pada peristiwa gempa bumi Kobe tahun 1995. Kasus ini merupakan hasil penelitian dari peneliti di universitas Doshisha. Dari hasil penelitiannya ditemukan banyaknya lansia yang meninggal saat berada dalam tempat penampungan akibat depresi berkepanjangan karena kesepian. Kondisi ini diperparah oleh masalah ketergantungan minuman keras, kekurangan gizi, kelaparan dan penyakit tua.

2.      Tujuan dan Metode Penelitian

 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak peningkatan lansia terhadap munculnya fenomena kodokushi (dying alone) yang terjadi pada peristiwa gempa bumi Kobe 1995. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analitis dan kualitatif yaitu dengan mengumpulkan data-data dari beberapa sumber kepustakaan dan melakukan deskripsi serta analisis terhadap data-data tersebut.

 3.      Hasil dan Pembahasan

 3.1. Struktur kependudukan di Jepang

            Tingkat pertumbuhan penduduk di suatu negara dipengaruhi oleh tiga hal. Pertama adalah angka kelahiran (birth rate), angka kematian (mortality rate) serta migrasi (out migration dan in migration). Birth rate mengacu pada jumlah kelahiran hidup dalam satu tahun pada 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Mortality rate mengacu pada jumlah kematian pada 1000 penduduk dalam satu tahun pada pertengahan tahun. Out migration menyangkut migrasi yang meninggalkan daerah sedangkan in migration menyangkut migrasi yang memasuki suatu daerah.  (Sunarto., 2000:173).

Umumnya tingkat pertumbuhan dan kematian penduduk di negara berkembang sangatlah pesat. Faktor penyebabnya antara lain rendahnya tingkat pendidikan dan taraf perekonomian, kurangnya sosialiasi mengenai keluarga berencana serta minimnya fasilitas dan akses kesehatan. Hal ini berbanding terbalik dengan negara industri dimana yang terjadi adalah rendahnya angka kelahiran dan kematian.

Para ahli demografi mengkaitkan kecenderungan di negara maju ini dengan kemajuan industrialisasi. Atas dasar keterkaitan ini, mereka membuat suatu teori teori kependudukan yang dikenal dengan teori transisi demografi (demographic transition theory).  Menurut teori ini, masyarakat yang mengalami proses industrialisasi akan melewati tiga tahap. Pada tahap pertama, yaitu tahap pra industri, tingkat kelahiran dan kematian tinggi dan stabil. Pada tahap kedua, tahap transisi, terjadi peningkatan tingkat kelahiran akibat meningkatnya kualitas kesehatan. Pada tahap ketiga tingkat kelahiran dan kematian rendah dan stabil. (Sunarto 2000: 175)

Jepang adalah salah satu negara maju di dunia yang mengalami tahapan seperti dalam teori transisi demografi tersebut. Jepang mengalami penurunan jumlah penduduk yang sangat drastis. Data menurut National Institute of Population and Social Security Research menunjukan suatu penurunan jumlah penduduk yaitu  128 juta (tahun 2010), 94.6 juta (tahun 2060) dan  59 juta (tahun 2110) (.http://www.anthropoetics.ucla.edu/ap1801/1801taylor.pdf).  Grafik dibawah ini menunjukkan data angka kelahiran yang rendah dan stabil selama kurun waktu 10 tahun sejak 1990 hingga 2010.

Angka kelahiran di Jepang saat ini adalah yang terendah di dunia yaitu sekitar 1,3 perpasangan. Sedangkan angka lansia mencapai 23,3% pada 2011 dan diprediksi akan mencapai rekor 38,5%  pada tahun 2050 (.http://www.anthropoetics.ucla.edu/ap1801/1801taylor.pdf).. Dengan demikian akan ada 1/3 penduduk lansia dari total keseluruhan penduduk Jepang. Pada tahun 1990, dalam setiap 6 orang tenaga kerja produktif terdapat 1 lansia, angka ini terus menurun dimana pada tahun  menjadi 4 orang tenaga produktif yang harus mensupport 1 lansia pada tahun 2000. Tahun 2010 menjadi 3 tenaga produktif menanggung 1 lansia. Pada 2025 diperkirakan tinggal  2 tenaga produktif dalam 1 lansia. Pada grafik dibawah ini terlihat angka kelahiran yang terus menerus menurun sejak 2010.

3.2.Fenomena kodokushi dalam masyarakat Jepang.

Kodokushi  atau dying alone/isolated death adalah suatu fenomena sosial yang muncul di Jepang pasca gempa bumi Kobe tahun 1995. Kasus ini mencuat ke permukaan pasca ditemukannya 207 lansia yang meninggal di rumah penampungan sementara (temporary shelter housing). Mereka adalah para lansia yang menjadi korban gempa dan tidak memiliki sanak keluarga. Kondisi ini menyebabkan mayoritas dari mereka mengalami depresi akibat kesepian. Banyak diantaranya yang akhirnya mengalami ketergantungan alkohol.  Sebagian lagi ditemukan meninggal karena kelaparan, kekurangan gizi atau sakit lever. Mayoritas adalah pria berusia 55 tahun-an. Jumlahnya hampir dua kali lipat wanita yang rata-rata berusia 70 tahunan.

Dari penelitian yang dilakukan oleh universitas Doshiha tahun 1997, diketahui bahwa kasus kodokushi terjadi pada pria berusia 50 tahunan dan wanita berusia 70 tahunan. Kasus  ini sebetulnya sudah muncul sebelum peristiwa gempa bumi Kobe seiring dengan peningkatan jumlah lansia di Jepang dan berkurangnya jumlah penduduk usia muda. Akan tetapi pemerintah belum menaruh perhatian serius pada masalah ini. Baru setelah munculnya kejadian kodokushi pada para lansia korban gempa bumi Kobe 1995, pemerintah mulai mengambil langkah-langkah penanggulangan.

Kasus-kasus bunuh diri (jisatsu) di Jepang juga merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dengan masalah kodokushi. Di dalam kasus-kasus kodokushi yang ditemukan, banyak yang merupakan kasus bunuh diri. Kasus bunuh diri di Jepang sendiri mengalami peningkatan sejak 1998. Kenaikannya melonjak tajam dari hanya 23.000 kasus di tahun 1997 melonjak menjadi 30.000 kasus di tahun berikutnya.

Beberapa faktor dianggap sebagai pemicunya diantaranya adalah industrialisasi. Industrialisasi mendorong kaum muda di Jepang  melakukan urbanisasi dan beralih pekerjaan dari sektor agraris ke sektor industri. Hal ini meyebabkan desa kekurangan tenaga muda. Yang tertinggal hanyalah  para lansia yang hidup sendiri tanpa sanak keluarga. Strukutur keluarga pun mengalami perubahan yakni dari keluarga luas luas (dozoku) menjadi keluarga inti (kaku kazoku).  Hal ini menyebabkan banyak lansia yang harus tinggal terpisah dengan anak-anak mereka. Mereka menjalani hari tua sendiri dan kesepian.

Jepang sendiri mengalami persoalan lain di bidang kependudukan. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya penduduk usia muda. Kekurangan penduduka usia muda menyebabkan semakin sedikit tenaga yang dapat membantu perawatn para lansia. Pada grafik di bawah ini, terlihat adanya penurunan angka kelahiran di Jepang pasca munculnya generasi baby boomers generasi pertama pertama tahun 1947~1949 dan generasi kedua tahun 1971~1974.

Populasi penduduk di Jepang terus menurun pada tahap yang mengkhawatirkan. Pada grafik di bawah terlihat angka kelahiran yang terus turun sejak 2010 sampai dengan perkiraaan di tahun 2050.

Kasus kodokushi terbanyak terjadi pada laki-laki berusia 50 sampai 60 tahun yang hidup sendiri tanpa keluarga, pekerjaan dan tujuan hidup. Pada wanita biasanya terjadi di usia 70 sampai 80 an. Dari kasus-kasus yang muncul, lambat laun masyarakat menyadari pentingnya membangun prinsip-prinsip hubungan sosial seperti tsunagari (relationship), sikatsu fukko (life constraction), fureai (human contact) serta koryu (exchange).

Kasus-kasus kodokushi lainnya juga banyak ditemui dikalangan pria yang memasuki usia pensiun. Mayoritas masyarakat Jepang, terutama kaum pria, adalah memiliki fokus hidup terbesar pada pekerjaan. Mereka akan merasa terbuang apabila masa pensiun tiba atau pada waktu kehilangan pekerjaan. Pada lansia berusia 70 sampai 80 an sering muncul perasaan tidak bahagia melihat para generasi muda yang tidak mampu merawat mereka. Mereka beranggapan bahwa keberhasilan Jepang menjadi negara maju yang membuat  para generasi muda hidup nyaman adalah adalah berkat kerja keras mereka.

Menurut Soekanto dalam sosiologi suatu pengantar , sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya serta menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya (Soekanto, 1990, 124). Proses ini bisa disebut sebagai sosialisasi. Pelaksanaan sosialisasi dilakukan oleh agen-agen sosialisasi (agents of socialization) yang meliputi keluarga, kelompok bermain, mendia masa dan sistem pendidikan. Sosialisasi merupakan proses yang terjadi sepanjang hidup manusia. Sosialisasi terbagi atas sosialaisasi primer ( primary socialization) dan sosialisasi sekunder ( secondary socialization). ( Sunarto, 2004: 31). Sosialisai primer adalah sosialisasi awal yang dijalani seorang individu sejak kecil sampai dengan memasuki dunia objektif masyarakat. Sosialisasi sekunder adalah proses interaksi sejak individu tersebut masuk ke kehidupan masyarakat.. Kehilangan agen sosialisasi bagi sebagian besar manusia akan membuat mereka menjadi mahluk yang terisolasi dan kehilangan masa depannya. Hal ini yang dirasakan oleh sebagian lansia di Jepang.

Pemerintah Jepang berupaya mengatasi masalah ini dengan melakukan langkah-langkah perbaikan diantaranya adalah pembentukan program kokoro no kea (mental care centre), program kunjungan ke rumah-rumah  yang meliputi pelayanan kesehatan dan konsultasi psikologi. Ada tiga hal yang tampak pasca peristiwa gempa yaitu kurangnya persiapan kepada para lansia, masalah kodokushi dan masalah lainnya yg muncul, membangun berbentuk komunitas tradisional dan dan dukungan keluarga dalam kaitannya dengan jaring pengaman sosial.

  Simpulan

            Peningkatan usia hidup di Jepang merupakan gambaran keberhasilan suatu negara maju seperti Jepang. Akan tetapi di satu sisi, muncul efek negatif dari keberhasilan tersebut. Para lansia itu tidak mendapatkan kualitas pemeliharaan yang memadai akibat keterbatasan tenaga muda yang produktif. Kondisi ini semakin diperparah dengan masalah penurunan angka kelahiran di Jepang yang tidak berimbang dengan peningkatan jumlah lansia. Hal lain yang memyebabkan kualitas pemeliharaan lansia berkurang adalah perubahan bentuk keluarga akibat industrialisasi. Para lansia harus menghabiskan sisa hudupnya sendiri tanpa sanak keluarga. Peristiwa bencana alam seperti gempa bumi Kobe tahun 1995 yang memunculkan fakta banyaknya lansia yang meninggal dunia akibat depresi karena kesepian. Hal ini  momentum untuk menyadarkan pemerintah dan masyrakat Jepang agar lebih menaruh perhatian pada para lansia. Berbagai kebijakan dan fasilitas dibangun untuk memberikan kualitas pelayanan yang lebih memadai kepada para lansia tersebut.

 

Daftar Pustaka

http://www.inter-disciplinary.net/wp-content/uploads/2010/10/otanihuspaper.pdf

http://www.jlgc.org.uk/en/pdfs/Hureai%20Kippu%20-%20Lessons%20from%20Japan%20for%20the%20Big%20SocietyCESedit17March2011.pdf

http://gpsw.doshisha.ac.jp/pdf/study_100305a.pdf

Soekanto Soerjono, Sosiologi suatu pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1990

Sunarto Kamanto, Pengantar sosiologi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: 2004


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close