Study Abroad Experience : Belajar Bahasa Jepang dan Menemukan Kepedulian di Tengah Taifun Wakayama
William memperoleh kesempatan untuk mengikuti program Study Abroad di Wakayama College of Foreign Studies, sebuah sekolah bahasa yang terletak di pusat Kota Wakayama. Lokasinya sangat strategis dan mudah dijangkau. Tepat di depan sekolah terdapat minimarket 7-Eleven sehingga mahasiswa dapat dengan mudah membeli makanan, minuman, atau kebutuhan sehari-hari saat jam istirahat.
Kegiatan pembelajaran di sekolah dibagi ke dalam dua sesi, yaitu sesi pagi dan sesi siang. Sesi pagi berlangsung pukul 08.40–12.40, sedangkan sesi siang berlangsung pukul 13.00–16.50. Sebelum memulai perkuliahan, setiap mahasiswa mengikuti tes penempatan untuk menentukan kelas yang sesuai dengan kemampuan bahasa Jepang masing-masing.
Selama mengikuti program ini, William belajar bersama mahasiswa internasional dari berbagai negara. Sebagian besar mahasiswa di sekolah tersebut berasal dari Tiongkok. Lingkungan multikultural ini memberinya kesempatan untuk tidak hanya menggunakan bahasa Jepang di dalam kelas, tetapi juga berkomunikasi dengan teman-teman yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.
Setiap hari, William mempelajari berbagai keterampilan penting dalam bahasa Jepang, meliputi kanji (huruf Jepang), bunpō (tata bahasa), chōkai (menyimak), dan dokkai (membaca). Pembelajaran yang berlangsung secara intensif membantu meningkatkan kemampuan bahasa Jepangnya secara lebih menyeluruh. Bahasa Jepang tidak lagi hanya menjadi materi yang dipelajari di kelas, tetapi juga menjadi sarana utama untuk berkomunikasi dan menjalani kehidupan sehari-hari di Jepang.
Di luar kegiatan akademik, William juga menikmati berbagai pengalaman menarik di Wakayama. Ia berkesempatan mengunjungi Wakayama Castle, salah satu landmark bersejarah yang menjadi simbol kota tersebut. Ia juga mencoba Koutarou Ramen, salah satu restoran ramen yang terkenal di Wakayama. Melalui kegiatan-kegiatan ini, William dapat mengenal Wakayama tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai kota yang memiliki sejarah, budaya, dan kuliner yang menarik.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika Wakayama dilanda taifū atau angin topan. Pada saat itu, supervisor dari tempat William bekerja paruh waktu (baito) datang menjemputnya agar ia dapat berangkat dengan lebih aman. Perhatian tersebut memberikan kesan mendalam karena menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab supervisor terhadap keselamatan para pekerjanya.
Bagi William, program Study Abroad di Wakayama bukan sekadar kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang. Pengalaman ini juga mengajarkannya untuk hidup mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun hubungan dengan masyarakat setempat, serta memahami budaya kerja dan kehidupan sehari-hari di Jepang secara langsung.

