Hinoe-Uma 1966: Apakah Fenomena Ini Bisa Terulang di Tahun 2026 pada Era Gen Z?

Pada tahun 1966, Jepang mencatat penurunan kelahiran yang tajam. Angka fertilitas turun dari sekitar 2,0 menjadi 1,6, dan jumlah kelahiran berkurang hampir setengah juta. Penyebab utamanya adalah kepercayaan terhadap tahun Hinoe-Uma (Kuda Api), yang diyakini membawa kesialan bagi perempuan kelahiran tahun tersebut. Banyak pasangan menunda kehamilan atau memilih aborsi agar tidak memiliki anak perempuan di tahun itu. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi dan stigma sosial dalam keputusan keluarga.

Kini, tahun 2026 kembali menjadi tahun Kuda Api. Pertanyaannya: apakah generasi muda Jepang masih percaya pada tradisi ini? Atau apakah mereka lebih realistis dan mengabaikan superstisi?

Gen Z: Tradisi vs Realitas

Generasi Z Jepang tumbuh dalam era digital, globalisasi, dan krisis demografi yang berkepanjangan. Mereka menghadapi realitas yang jauh berbeda dibandingkan generasi 1960-an:

  • Biaya hidup tinggi dan harga perumahan yang tidak terjangkau.
  • Karier tidak stabil, dengan banyak pekerjaan kontrak dan jam kerja panjang.
  • Isolasi sosial yang meningkat, termasuk fenomena hikikomori.
  • Kesempatan karier bagi perempuan yang lebih luas, menggeser norma gender tradisional.

Dalam konteks ini, kepercayaan terhadap Hinoe-Uma hampir tidak relevan. Survei terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap ramalan tradisional menurun drastis di kalangan muda. Bagi mereka, keputusan untuk menikah atau memiliki anak lebih dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan gaya hidup, bukan oleh kepercayaan kuno.

Faktor Baru: “Brain Rot” dan Budaya Scroll

Selain tekanan ekonomi, ada faktor psikologis yang semakin memengaruhi pola pikir generasi muda: pengaruh media sosial. Fenomena yang sering disebut “brain rot” muncul akibat konsumsi konten berlebihan melalui scrolling tanpa henti. Dampaknya:

  • Normalisasi gaya hidup individualis melalui konten yang menonjolkan kebebasan dan self-care.
  • Perbandingan sosial yang membuat pernikahan dan anak terlihat sebagai beban, bukan prestise.
  • Distraksi permanen yang menggeser prioritas dari membangun keluarga ke pencarian hiburan instan dan validasi digital.

Akibatnya, bukan hanya tradisi yang kehilangan pengaruh, tetapi juga nilai-nilai keluarga yang dulu dianggap penting. Generasi muda lebih fokus pada kebebasan pribadi, pengalaman, dan identitas digital.

Kesimpulan: Fenomena Lama, Masalah Baru

Fenomena 1966 tidak akan terulang dalam bentuk yang sama. Penurunan kelahiran di 2026 bukan karena superstisi, melainkan akibat tekanan ekonomi, perubahan nilai, dan pengaruh budaya digital. Jika Jepang gagal merespons dengan kebijakan yang mendukung keseimbangan hidup, akses perumahan, dan reformasi gender, tren penurunan populasi akan terus berlanjut dengan dampak sosial dan ekonomi yang jauh lebih serius daripada 1966.

RMP