Dari Hikikomori ke Sotokomori: Menyendiri, Pergi, Mencari Cara Hidup Baru

 

Fenomena 外こもり (sotokomori) kerap disalahpahami sebagai bentuk pelarian atau isolasi sosial versi global. Padahal, jika dilihat lebih cermat, yang dilakukan oleh kelompok ini bukan pemutusan hubungan sosial, melainkan rekonstruksi jejaring sosial, sebuah upaya sadar untuk mengubah logika relasi, bukan menghilangkannya. Pada dasarnya, individu soto-komori sedang melakukan rewiring atas jaringan sosial mereka. Mereka tidak memutus relasi dengan Jepang, tetapi mengubah bentuk, arah, dan prinsip kerja jaringan tersebut.

 

Dalam konteks sosial Jepang, networking secara tradisional beroperasi melalui rantai berikut:

Jabatan → Institusi → Senioritas → Kewajiban sosial

Relasi dibangun dan dipertahankan bukan semata-mata karena kecocokan kerja, melainkan karena posisi struktural, loyalitas simbolik, serta norma kewajiban jangka panjang. Sebagian orang, sistem ini memberikan stabilitas, tapi ada juga yang menganggap sistem tersebut justru menjadi sumber tekanan yang terus-menerus. Sebaliknya, ketika tinggal di luar negeri, individu sotokomori cenderung membangun jejaring dengan logika yang berbeda:

Keahlian → Proyek → Kepercayaan → Kontinuitas

 

Relasi sosial tidak lagi ditentukan oleh status formal, melainkan oleh kapabilitas praktis dan pengalaman bekerja bersama. Keberlanjutan hubungan bergantung pada rasa saling percaya dan kenyamanan, bukan kewajiban struktural. Akibat dari pergeseran ini, sotokomori bukan “kabur lalu menyendiri”, melainkan menjalani bentuk keterhubungan yang lebih selektif dan lintas batas. Dalam praktiknya, mereka sering kali:

  • Tetap terhubung dengan Jepang melalui klien, editor, perusahaan kecil, atau komunitas profesional,

  • Sekaligus menanam relasi di negara tempat tinggal, seperti komunitas remote worker, kreator independen, LSM skala kecil, atau lingkaran co-working,

  • Tanpa tekanan untuk sepenuhnya “menjadi bagian” dari satu sistem nasional tertentu.

 

Bentuk relasi ini dapat disebut sebagai networking transnasional yang ringan: tidak mengikat identitas secara total, tidak menuntut loyalitas simbolik, dan tidak memaksa individu untuk tampil sesuai skrip budaya tertentu. Jika dilihat melalui kacamata sosiologi, praktik ini menunjukkan pembentukan modal sosial lintas medan (cross-field social capital). Modal sosial tersebut tidak dibangun melalui institusi besar, gelar akademik, atau nama perusahaan, melainkan melalui project-based trust. Nilai utama dalam jaringan ini bukan “asal dari mana” atau “lulusan mana”, melainkan satu pertanyaan sederhana:

Apakah orang ini bisa diajak bekerja, dapat dipercaya, dan tidak menguras energi?

Dengan demikian, relasi sosial menjadi lebih fungsional, fleksibel, dan berorientasi pada pengalaman nyata.

 

Menariknya, sotokomori juga bukan diaspora dalam pengertian klasik. Mereka tidak berposisi sebagai “perwakilan Jepang” di luar negeri, tidak membawa misi identitas nasional, dan tidak selalu membentuk komunitas etnis yang solid. Sebaliknya, mereka cenderung mengendap di antara negara. Identitas mereka bersifat cair: kadang Jepang, kadang global, kadang sengaja anonim. Keterikatan bersifat situasional dan dapat berubah sesuai konteks hidup dan kerja. Dengan demikian, sotokomori bukanlah individu yang menghilang dari dunia sosial. Mereka adalah individu yang: Menolak satu ekosistem relasi yang dirasa terlalu menekan, sambil secara aktif merakit ekosistem relasi lain yang lintas batas dan lebih dapat dinegosiasikan.

Ini bukan isolasi, melainkan eksperimen hidup global dalam skala kecil yang lebih sunyi dari hiruk-pikuk sistem besar, tetapi justru penuh dengan koneksi yang dipilih secara sadar. Pesan moral yang dapat ditarik dari fenomena sotokomori ini adalah bahwa keterhubungan sosial tidak harus dibangun melalui kepatuhan total terhadap satu sistem kehidupan. Dalam dunia yang semakin global dan digital, manusia memiliki hak untuk merancang ulang cara mereka berjejaring, bekerja, dan memberi makna pada relasi sosialnya. 

Sotokomori mengingatkan kita bahwa menjaga kesehatan mental, martabat pribadi, dan otonomi hidup bukan bentuk pelarian, melainkan tindakan reflektif ketika suatu ekosistem sosial tidak lagi menyediakan ruang bernapas. Bukan semua orang perlu meniru jalur ini, tetapi semua orang berhak mengetahui bahwa alternatif itu ada dan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa sempurna dia menyesuaikan diri dengan satu definisi sukses yang sempit.

 

Referensi Bacaan:

  •  Media Jepang (kolom budaya & lifestyle): diskusi populer tentang 外こもり dalam konteks kerja remote dan migrasi ringan anak muda Jepang.
  •  Kato, T. A., et al. “Hikikomori: Multidimensional Understanding, Assessment, and Future International Perspectives.” Psychiatry and Clinical Neurosciences, 2019.
  • https://www.youtube.com/watch?v=H1sA-L4uj4w&t=1s “What is Sotokomori  –  Hiroshi Yamazoe : Hikikomori

 

Gian & Collin