Pariwisata vs Warisan Budaya: Strategi Kyoto Menjaga Kota Tua di Tengah Ledakan Wisatawan

Bayangkan sebuah kota tua yang sangat indah, penuh kuil, rumah kayu tradisional, dan jalan sempit bersejarah, lalu tiba-tiba jutaan turis datang setiap tahun. Itulah situasi yang dialami kota Kyoto di Jepang. Dalam dua dekade terakhir, jumlah wisatawan yang datang ke Jepang meningkat sangat cepat, terutama setelah pemerintah menjadikan pariwisata sebagai sumber penting pendapatan negara. Pada periode 2013–2018 saja, jumlah wisatawan meningkat hingga puluhan juta orang setiap tahun, dengan sebagian besar datang dari negara-negara Asia seperti Cina, Korea Selatan, dan Taiwan. Fenomena ini membuat sektor pariwisata menjadi mesin ekonomi baru bagi Jepang.

Kyoto adalah salah satu kota yang paling merasakan dampak dari lonjakan wisatawan tersebut. Kota ini sering disebut sebagai “rumah budaya Jepang” karena memiliki sekitar 2.000 situs sejarah dan keagamaan, termasuk kuil, taman tradisional, serta rumah kayu khas yang disebut machiya. Dengan populasi sekitar 1,5 juta orang, Kyoto pada tahun 2019 dikunjungi hampir 88 juta wisatawan. Pariwisata menghasilkan pendapatan lebih dari 1,3 triliun yen, sehingga menjadi sektor ekonomi yang sangat penting bagi kota ini.

Namun, ledakan wisata juga membawa masalah. Banyak pembangunan hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan yang mulai mengubah wajah kota. Gedung-gedung tinggi muncul di sekitar bangunan tradisional seperti machiya, bahkan di dekat sungai dan kuil bersejarah. Jika dibiarkan, perkembangan ini bisa merusak karakter kota yang justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Fenomena ini dikenal sebagai konflik antara pembangunan pariwisata dan pelestarian budaya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah Kyoto menerapkan berbagai kebijakan pelestarian lanskap kota. Beberapa aturan penting antara lain pembatasan tinggi bangunan, penetapan kawasan khusus yang harus dilindungi, serta aturan ketat mengenai papan iklan di gedung. Misalnya, di kawasan bersejarah, tinggi bangunan dibatasi hanya sekitar 12–31 meter agar tidak merusak pemandangan kuil dan rumah tradisional. Bahkan ada kasus di mana pemilik gedung harus menurunkan tinggi bangunan mereka agar sesuai dengan peraturan kota.

Kebijakan ini menunjukkan bagaimana sebuah kota bisa mengembangkan pariwisata tanpa menghancurkan identitas budayanya. Dalam konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan, pembangunan harus mempertimbangkan tiga hal sekaligus: ekonomi, lingkungan, dan budaya masyarakat lokal. Kyoto menjadi contoh menarik bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga justru menjadi kekuatan utama dalam menarik wisatawan dari seluruh dunia.

Jika dilihat dengan kacamata yang sedikit filosofis, Kyoto seperti eksperimen sosial besar: bagaimana manusia bisa menyeimbangkan antara kemajuan ekonomi dan penghormatan terhadap masa lalu. Kota itu mengingatkan kita bahwa pembangunan yang paling cerdas bukanlah yang paling cepat, tetapi yang paling mampu menjaga warisan peradaban.

Dr. Sri Dewi Adriani, S.S., M.Si.