Gyoza: Jejak Sejarah, Budaya, dan Identitas Jepang Modern

Ketika kita menyebut kuliner Jepang, sushi dan ramen biasanya langsung terlintas. Ada satu makanan yang diam-diam menjadi ikon keseharian Jepang modern: gyoza (餃子).
Di restoran ramen kecil, di izakaya, di meja makan keluarga, bahkan di anime, gyoza selalu hadir. Tapi tahukah kita bahwa makanan ini sebenarnya bukan asli Jepang?
Dari Jiaozi ke Gyoza: Perjalanan Lintas Negara
Gyoza berasal dari Tiongkok, dikenal sebagai jiaozi, yang telah ada sejak lebih dari 1.800 tahun lalu pada masa Dinasti Han. Dumpling berbentuk bulan sabit ini melambangkan kemakmuran dan sering dikonsumsi saat perayaan tahun baru.
Masuknya gyoza ke Jepang terjadi secara signifikan setelah Perang Dunia II. Tentara Jepang yang kembali dari wilayah Manchuria membawa kebiasaan makan jiaozi. Namun di Jepang, resep tersebut mengalami adaptasi:
-
Kulit lebih tipis
-
Isi lebih halus
-
Bawang putih lebih dominan
-
Teknik memasak panggang-kukus (yaki-gyoza) menjadi populer
Di sinilah terjadi proses yang dalam kajian budaya disebut sebagai glocalization (Robertson, 1995): produk global yang diadaptasi secara lokal hingga membentuk identitas baru.
Hari ini, banyak orang Jepang menganggap gyoza sebagai makanan khas Jepang. Proses “menjadi Jepang”-nya gyoza menunjukkan bahwa identitas budaya bersifat dinamis, bukan statis.
Gyoza dan Budaya Keseharian Jepang
Antropolog Arjun Appadurai (1988) menyebut bahwa makanan adalah bagian dari “gastro-politics”, ruang di mana identitas dan relasi sosial dinegosiasikan. Dalam konteks Jepang, gyoza bukan makanan mewah, melainkan makanan rumahan.
Membuat gyoza sering menjadi aktivitas kolektif dalam keluarga:
-
Satu orang mengisi adonan
-
Satu orang membungkus
-
Anak-anak membantu menyusun
Proses ini merepresentasikan nilai kebersamaan dan pembagian peran dalam ruang domestik Jepang. Dalam istilah budaya Jepang, ini bisa dikaitkan dengan konsep uchi (ruang dalam/keluarga).
Mengapa Gyoza Selalu Bersama Ramen?
Secara rasa, kombinasi ramen dan gyoza menciptakan keseimbangan tekstur:
-
Ramen: hangat dan berkuah
-
Gyoza: renyah di bawah, juicy di dalam
Namun dari perspektif industri, kombinasi ini juga rasional secara ekonomi:
-
Bahan murah
-
Mudah diproduksi massal
-
Cocok meningkatkan penjualan minuman
Dalam studi industri budaya Jepang (Allison, 2006), makanan dan media sering menjadi bagian dari ekosistem ekonomi populer. Ramen-gyoza adalah bentuk sinergi sederhana namun efektif.
Gyoza dalam Anime: Makanan sebagai Simbol Emosional
Dalam anime seperti Shokugeki no Soma, Naruto, atau Doraemon, makanan sering menjadi perangkat naratif. Gyoza sering muncul dalam adegan:
-
Makan bersama setelah konflik
-
Percakapan santai antar karakter
-
Momen keluarga di rumah
Thomas Lamarre (2009) menjelaskan bahwa anime membangun kedekatan emosional melalui detail keseharian. Makanan menjadi alat untuk menciptakan emotional realism, perasaan yang terasa nyata bagi penonton.
Melihat karakter membungkus gyoza bukan hanya adegan memasak. Itu adalah simbol kehangatan, kerja keras, dan kedekatan sosial.
Cara Membuat Gyoza Ayam
Resep berikut diadaptasi dari:
NHK「今日の料理ビギナーズ」ハンドブック
バツ江おばあちゃんの定番おかずレッスン (2012)
Penulis: 高木バツ江
Editor: 小田真紀子
NHK出版
ギョーザ
Bahan (2–3 orang)
-
200 gram ayam cincang
-
200 gram kubis
-
50 gram daun bawang
-
Garam
Bahan A:
-
Jahe parut
-
Shoyu
-
Minyak wijen
-
Air
Kulit gyoza 24 lembar
Bahan B:
-
Tepung terigu
-
Keju bubuk
-
Air
Minyak goreng & minyak wijen
Langkah Utama
-
Cincang kubis dan daun bawang.
-
Campur dengan garam, diamkan 10 menit.
-
Bumbui ayam dengan bahan A hingga lengket.
-
Peras air sayuran, campurkan dengan ayam.
-
Bagi adonan menjadi 24 bagian.
-
Isi dan lipat kulit gyoza.
-
Panggang hingga bagian bawah keemasan.
-
Tambahkan campuran tepung-air, tutup dan kukus-panggang.
-
Masak hingga renyah dan sajikan.

Teknik ini disebut metode yaki-mushi (panggang-kukus), ciri khas gaya Jepang.
Gyoza sebagai Studi Budaya
Melalui satu piring gyoza, kita dapat membaca:
-
Sejarah migrasi pascaperang
-
Adaptasi budaya
-
Identitas nasional yang dinegosiasikan
-
Ekonomi kuliner
-
Representasi domestik dalam anime
Inilah mengapa dalam studi Sastra dan Budaya Jepang, hal sederhana seperti makanan bisa menjadi pintu masuk pemahaman tentang globalisasi, media, dan identitas.
Budaya tidak hanya hidup dalam karya klasik. Ia hidup dalam dapur, dalam restoran kecil, dan dalam adegan anime yang membuat kita merasa “rumah”.
Referensi
Allison, A. (2006). Millennial Monsters: Japanese Toys and the Global Imagination. University of California Press.
Appadurai, A. (1988). “How to Make a National Cuisine: Cookbooks in Contemporary India.” Comparative Studies in Society and History, 30(1), 3–24.
Lamarre, T. (2009). The Anime Machine: A Media Theory of Animation. University of Minnesota Press.
Robertson, R. (1995). “Glocalization: Time-Space and Homogeneity-Heterogeneity.” Dalam Global Modernities. Sage Publications.
NHK出版 (2012). 今日の料理ビギナーズ ハンドブック バツ江おばあちゃんの定番おかずレッスン.