オノマトペ(Onomatopeia):Jejak Bunyi dalam Sejarah dan Mitologi Jepang

Tahukah Anda bahwa onomatopeia dalam bahasa Jepang bukan sekadar “kata tiruan bunyi”, melainkan arsip kecil tentang bagaimana manusia Jepang sejak dahulu merasakan dunia?

Onomatopeia dapat dianalogikan sebagai fosil suara, jejak fonetik yang merekam pengalaman sensorik masyarakat masa lampau. Jika dalam banyak bahasa onomatopeia hanya hadir sebagai elemen tambahan (misalnya “meow” atau “boom”), dalam bahasa Jepang onomatopeia berkembang menjadi sistem leksikal yang produktif dan terstruktur.

Bahasa Jepang mengenal klasifikasi sebagai berikut:

  • 擬音語 (giongo): tiruan bunyi nyata

  • 擬態語 (gitaigo): tiruan keadaan atau kondisi

  • 擬情語 (gijōgo): tiruan perasaan

Struktur fonologis bahasa Jepang yang cenderung berpola CV-CV serta kaya reduplikasi—seperti doki-doki, kira-kira, shito-shito—membuat bahasa Jepang sangat “ramah” terhadap pembentukan kata mimetik.

Pertanyaan penting kemudian muncul: sejak kapan onomatopeia hadir dalam literasi Jepang? Apakah onomatopeia baru berkembang pada era modern melalui manga dan anime, ataukah sudah muncul sejak teks tertua?

Jawabannya: sangat tua, bahkan mendahului stabilisasi sistem tulisan Jepang.


1. Zaman Nara dan Manyōshū: Benih dalam Puisi Awal

Pada abad ke-8, Jepang menghasilkan antologi puisi tertua yang masih bertahan hingga kini, yaitu Man’yōshū. Karya ini ditulis menggunakan sistem man’yōgana, yakni penggunaan kanji sebagai lambang fonetik sebelum berkembangnya kana modern.

Dalam teks tersebut ditemukan bentuk-bentuk mimetik awal seperti:

  • yura-yura (bergoyang lembut)

  • sawa-sawa (gemerisik angin)

  • toko-toko (langkah kecil berulang)

Pada periode ini, onomatopeia belum terstandardisasi seperti sekarang. Fonologi Jepang masih berkembang dan sistem penulisan belum membedakan secara tegas antara representasi makna dan bunyi. Unsur fonosimbolik telah hadir dalam teks tertulis paling awal.

Dalam konteks puisi, fungsi onomatopeia tidak sekadar deskriptif. Onomatopeia memperkuat atmosfer dan menambahkan dimensi auditif pada lanskap visual. Hujan bukan hanya “turun”, tetapi turun secara shito-shito. Angin tidak sekadar “bertiup”, melainkan berdesir sawa-sawa. Bunyi menjadi jembatan antara pengalaman inderawi dan bahasa.


2. Mitologi dan Kosmologi: Kojiki dan Nihon Shoki

Memasuki wilayah mitologi, terdapat dua teks fundamental: Kojiki (712) dan Nihon Shoki (720). Keduanya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan teks kosmologis yang melegitimasi garis keturunan kekaisaran serta menjelaskan asal-usul dunia menurut Shinto.

Apakah onomatopeia sudah hadir pada masa ini?

Onomatopeia muncul dalam bentuk yang lebih tersembunyi dan belum eksplisit seperti dalam budaya populer modern. Dalam Kojiki terdapat frasa seperti 「こをろこをろに」 (koro-koro ni) yang menggambarkan gerakan cairan yang menetes dan mengental dalam kisah penciptaan pulau oleh Izanagi dan Izanami. Reduplikasi tersebut memberikan kesan gerak berputar dan berat secara fonetik. Walaupun berbeda dari bentuk modern seperti goro-goro, kecenderungan sound symbolism sudah tampak jelas.

Sementara itu, Nihon Shoki ditulis dengan gaya lebih formal dan dipengaruhi historiografi Tiongkok klasik. Sifatnya resmi dan politis sehingga ekspresi bunyi tidak ekspresif teks naratif rakyat. Dalam deskripsi badai, perang, atau tangisan ritual, pemilihan konsonan dan ritme kalimat tetap menunjukkan kesadaran fonetik.

Dalam teks sakral dan politis sekalipun, bahasa Jepang tidak sepenuhnya melepaskan hubungan antara bunyi dan makna.


3. Sastra Heian: Estetika Kehalusan

Memasuki periode Heian, karya seperti Genji Monogatari menunjukkan perubahan nuansa. Budaya istana Heian menjunjung tinggi estetika implisit dan kehalusan perasaan (mono no aware). Onomatopeia tetap hadir, tetapi tampil lebih lembut dan tersirat.

Contoh bentuk:

  • shito-shito (hujan lembut)

  • soso (gerakan pelan)

  • kira-kira (kilau cahaya)

Onomatopeia dalam periode ini tidak berfungsi untuk dramatisasi, melainkan untuk memperdalam rasa. Onomatopeia menjadi alat estetika mikro yang membuat pembaca “merasakan” suasana, bukan sekadar memahami peristiwa.


4. Zaman Kamakura: Lisan, Ritme, dan Dramatisasi

Periode Kamakura membawa perubahan sosial besar. Sastra menjadi lebih dekat dengan rakyat dan tradisi lisan menguat. Karya seperti Heike Monogatari awalnya dipertunjukkan oleh para biwa hōshi.

Sifat performatif karya tersebut menjadikan ritme dan bunyi sangat penting. Reduplikasi dan konsonan keras memperkuat efek dramatis perang: gemuruh, dentuman, teriakan. Onomatopeia membantu daya ingat sekaligus membangun tempo naratif.

Terlihat adanya transisi: dari bunyi sebagai elemen estetika istana menjadi bunyi sebagai alat dramatik populer.


5. Fungsi Onomatopeia: Lebih dari Sekadar Bunyi

Secara linguistik dan kognitif, onomatopeia memiliki sejumlah fungsi penting:

Fungsi Deskriptif
Onomatopeia memperjelas kualitas suatu peristiwa. Tanpa onomatopeia, hujan hanya “turun”. Dengan shito-shito, kelembutan hujan dapat dirasakan.

Fungsi Ilusionistik
Dalam teori embodied simulation, pembaca secara tidak sadar mensimulasikan pengalaman sensorik saat membaca bunyi simbolik. Membaca doki-doki dapat memicu resonansi ritmis dalam tubuh.

Fungsi Naratif-Ritmis
Dalam teks lisan seperti Heike Monogatari, pengulangan bunyi menciptakan tempo serta membantu daya ingat.

Fungsi Psikologis
Bahasa Jepang memungkinkan emosi menjadi konkret melalui gijōgo seperti waku-waku atau ira-ira. Emosi tidak lagi abstrak, melainkan terdengar dan terasa.

Fungsi Estetis
Dalam puisi klasik, bunyi merupakan bagian dari musikalitas. Pengulangan memperkaya harmoni teks.


6. Sound Symbolism dan Tantangan terhadap Arbitrariness

Dalam linguistik modern, Ferdinand de Saussure mengemukakan prinsip arbitrariness of the sign, yaitu bahwa hubungan antara bunyi dan makna bersifat sewenang-wenang. Praktik bahasa Jepang menunjukkan kecenderungan sound symbolism: bunyi tertentu diasosiasikan dengan kualitas tertentu.

Konsonan keras seperti /g/ atau /k/ sering memberi kesan berat (goro-goro), sedangkan bunyi /s/ atau /sh/ terasa ringan dan halus (sara-sara, shito-shito).

Fenomena ini tidak sepenuhnya membantah teori Saussure, tetapi menunjukkan bahwa hubungan bunyi dan makna tidak selalu sepenuhnya arbitrer.


7. Dari Mitologi ke Manga

Jika ditarik garis sejarah panjang dari koro-koro dalam Kojiki, ke ritme perang dalam Heike Monogatari, hingga tipografi besar zawa-zawa dalam manga modern terlihat kesinambungan yang berubah pada medium dan intensitas visualisasi.

Dalam manga maupun anime, onomatopeia tidak hanya berfungsi sebagai representasi bunyi, tetapi juga sebagai konstruksi visual yang terintegrasi dalam narasi. Onomatopeia ditampilkan dalam tipografi menonjol, sering berukuran besar dan ditempatkan secara strategis di latar, sehingga menjadi bagian dari dunia diegetik. Dengan demikian, bunyi tidak hanya dialami melalui pendengaran, tetapi juga melalui pembacaan visual dan internalisasi kognitif.


Kesimpulan

Onomatopeia dalam bahasa Jepang bukan fenomena modern, melainkan tradisi yang berakar sejak teks tertulis paling awal. Perkembangannya dapat ditelusuri melalui puisi klasik, mitologi, sastra istana, hingga narasi lisan rakyat. Fungsi onomatopeia melampaui deskripsi semata: onomatopeia memperdalam ilusi naratif, membangun ritme, mengonkretkan emosi, serta memperkaya dimensi estetika.

Fenomena ini menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar sistem simbol abstrak, melainkan pengalaman yang berakar pada tubuh dan persepsi sensorik. Dari gemerisik angin dalam Man’yōshū, kosmogoni dalam Kojiki, kilau hujan dalam Genji Monogatari, hingga tipografi eksplosif dalam budaya populer kontemporer, onomatopeia dapat dipahami sebagai denyut nadi yang konsisten mengalir dalam sejarah bahasa Jepang.

Gian